PINTU DOA

10
55

KAMPUS SAMUDRA ILMU HIKMAH

Pada masa Bani Israel, ada suami istri yang berdoa kepada Allah Swt. Mereka memohon agar segera diberi momongan. Namun, sampai tahun kelima pernikahannya, tanda-tanda kehamilan tak tampak pada sang istri. Sang suami merasa Allah telah jauh darinya sehingga tidak mau mendengar dan mengabulkan doa-doanya. Kebetulan, siang harinya, Khalifah Ali bin Abi Thalib tengah berkhotbah di masjid.

`Ya Amirul Mukminin, mengapa doa kami tidak diijabah, sedangkan Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an bahwa ‘ud’uuni astajib lakum’ (berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan doamu)?”
Mendengar pengaduan yang demikian, Ali bin Abi Thalib pun balik bertanya kepada orang tersebut, “Apakah sudah kaujaga pintu-pintu doamu?”

“Aku tidak mengerti maksudmu, wahai Amirul Mukminin.”
“Apakah sudah kaujaga pintu doamu dengan melaksanakan kewajibanmu sebagai hamba-Nya? Kau beriman kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya?
“Apakah kaujaga pintu doamu dengan beriman kepada Rasulullah? Kau beriman kepada rasul-Nya, tetapi kau menentang sunah dan mematikan syari’atnya.

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang kaubaca itu? Ataukah kau belum juga sadar tatkala mengaku takut kepada neraka, tetapi kau justru mengantarkan dirimu sendiri ke neraka dengan maksiat dan perbuatan sia-sia? Ketika kau menginginkan surga, sebaliknya kaulakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga,” tanya Ali bin Abi Thalib bertubi-tubi. “Apakah kau telah menjaga pintu doamu dengan bersyukur kepada-Nya saat Dia memberimu kenikmatan? Sudahkah kau memusuhi setan atau malah sebaliknya kau bersahabat dengan setan? Apakah kau pernah menjaga pintu doamu dari menjauhi mencela dan menghina orang lain?” lanjut Ali bin Abi Thalib.

Si pria diam membisu, mendengar pertanyaan Ali bin Abi Thalib yang bertubi-tubi.
“Bagaimana doa seorang hamba akan diterima, sementara kau tidak menjaga, bahkan menutup pintu doa tersebut? Bertakwalah kepada Allah, perbaikilah amalanmu, ikhlaskanlah batinmu, lalu keijakanlah amar makruf nahi munkar. Insya Allah, Dia akan segera mengabulkan doa-doamu itu,” kata sang Khalifah.

“Diijabah atau tidaknya doa seorang Muslim,

sesungguhnya bergantung pada dirinya sendiri. ”

10 KOMENTAR

  1. Qabiltu kang..

    Izinkan ana dilain waktu mengizajahkan ilmu kunfayakun versi kampung ana, ilmu ini pernah digunakan orang zaman dahulu kala untuk menyulap manusia jadi batu…di Kalimantan Selatan ini ada batu menangis dan ada suatu kisah yang mirip kisah Malin Kundang, sampai-sampai kapalnya juga jadi batu, masih bisa dilihat bentuk kapalnya membatu sampai saat ini

    SALAM PANJENENGAN MONGGO

  2. Dan kisah serupa dengan Malin Kundang yang terjadi di Kalimantan Selatan tidak hanya si anak yang jadi batu, akan tetapi seluruh manusia yang berada dikapal tersebut menjadi batu

    SALAM PANJENENGAN MONGGO

  3. ILMU KUN FAYAKUN VERSI HULU SUNGAI

    Baiklah dalam kesempatan kali ini izinkan ana mengizajahkan ilmu kunfayakun versi hulu sungai kepada para dangsanak KSIH, sbb :

    (‘Alaa maa tarum haqqoy yarowna bi qondhobin, bi haqqi tanaawin yawma zahmin tazaahamat)

    Mantra tersebut dibaca istiqamah ba’da Shalat Subuh sebanyak 70x.

    SALAM PANJENENGAN MONGGO

Tinggalkan Balasan