Meluruskan Konsep Manunggaling Kawulo Gusti

0
28

Membicarakan Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah.
Tema tentang Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti (MKG) atau manunggalnya hamba dengan Tuhan ini adalah konsep yang sudah lama sekali dalam sejarah keagamaan, khususnya Islam. Ada yang menyebut bahwa konsep ini adalah pengejawantahan dari konsep aliran Wahdatul Wujud. Saya sendiri kurang tahu tentang wahdatul wujud jadi tidak hendak mengomentari konsep kepercayaan tersebut.
 
Tentang konsep Manunggaling Kawulo-Gusti inipun saya tidak tahu apakah konsep saya sama persis dengan konsep para tokoh yang dianggap pelopor ajaran MKG ini, misalnya Kanjeng Waliyullah Syeh Siti Jenar atau misalnya dengan Kiyahi Burhan alias Raden Ngabehi Ronggowarsito. Jadi saya tidak hendak membandingkan konsep saya dengan mereka, karena saya tentu ‘bukan apa-apa’ dibandingkan mereka. Apalagi menilai ajaran mereka, wow nggak berani, takut kualat.
 
Bagi saya, konsep MKG adalah merasa diri fana, tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa. Sekedar hamba Allah, makhluk Allah yang tiada berdaya, yang kebetulan menyandang amanah sebagai ‘khalifah’ (wakil) Allah untuk memakmurkan bumi ini. Itu bukanlah tugas yang ringan. Tugas yang berbanding lurus dengan kewajiban ‘ibadah’ (“Tidaklah Aku cipta jin dan manusia kecuali untuk beribadah”). Juga tugas yang berbanding lurus dengan perintah “mengenal-Nya” ( “Aku mencipta makhluk supaya mereka mengenal-Ku”- hadist Qudsi ).
 
Justru karena yakin akan kebenaran “Laa haula wa laa quwata illa billah” maka sang diri merasa fana tiada berdaya. Bukan diri ini yang bisa melihat, namun Allah Yang Maha Melihat yang meminjamkan atau mengalirkan daya penglihatan kepada diri ini. Bukan diri ini yang mampu mendengar namun Dia yang meminjamkan pendengaran ini. Bukan diri ini yang bisa berjalan namun Dia yang mengalirkan kekuatan untuk berjalan. Bukan diri ini yang bisa sembahyang dan berdoa namun karena welas asihNya yang menuntun (dengan hidayahNya) dan memberi kekuatn diri untu beribadah.
 
Kalau MKG dimaknai bahwa tiada daya dan upaya melainkan pertolonganNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa segala kebaikan adalah milikNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa hidup ini pada hakekatnya adalah milikNya maka harus kita kembalikan, kita persembahkan kembali untukNya maka pengertian itu pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa kita harus meneruskan misi rasulullah bahwa kita harus menebarkan ‘rahmah’ atau kasih sayang kepada alam semesta ( makhluk semuanya ) maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa apapun yang kita lakukan ini dalam rangka mengemban amanah-Nya untuk menjadi khalifah-Nya untuk mengatur dan memakmurkan kehidupan ini untuk mencapau ridlo-Nya maka makna ini pasti benar.
 
Kalau MKG dimaknai bahwa Allah itu Maha Dekat (Al-Qoriib) maka itu benar. Jikapun dimaknai bahwa Dia yang menentukan kehidupan kita (Al Qodir wal muktadir) itupun benar. Kalu MKG dimaknai bahwa dalam setiap tarikan nafas kita kita harus senantiasa mengingat-Nya maka itu adalah pengertian yang bukan hanya benar namun sangat terpuji.
 
Kenapa benar makna-makna tersebut ? Karena sesuai dengan ajaran Quran dan Rasulullah serta sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Lalu kenapa konsep MKG ini selalu menghebohkan ? Bahkan untuk menyebutnya pun orang takut ? Tentu tidak lain adalah stigma negatif yang melekat pada konsep ini.
 
Membicarakan Konsep MKG ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah. Begitu juga dengan konsep MKG ini. Tidak dipungkiri bahwa mungkin ada beberapa pengertian-pengertian atau makna – makna lain tentang konsep MKG ini yang selain yang diatas, yang bisa jadi saya dan Anda tidak sependapat (belum tentu salah lho ! ) Namun, apapun itu salah ataupun benarnya bukan saya atau Anda yang berhak memutuskan. Biarlah Allah sendiri yang memberi keputusan. Insya Allah jika pencarian jiwa itu adalah dalam rangka mengenal-Nya dan mencari ridlo-Nya maka Dia sendiri yang akan menuntun dan membetulkannya.
by, pencerahan hati jenar

1 KOMENTAR

  1. Assalamu’alaikum wr.wb.
    ki Dead man , yang Insya Allah senantiasa dimuliakan Allah SWT.
    Ilmu adalah ilmu, yang selalu punya potensi berbeda pemahaman ( tafsir ), apalagi yang menyangkut ayat 2 mutasyabihat ( samar ).
    Sungguh….saya merasa tertarik dengan apa yang dibabarkan Ki Dead Man.
    Sex…adalah kebutuhan dasar manusia, siapapun,dimanapun,kapanpun…tapi tetap harus diatur melalui rambu 2.
    Dalam hal membaca rambu 2 inilah kemudian orang beda pemahaman.
    Alangkah eloknya,bila ada Saudara 2 kita yang sudi menerangkan secara detail siapa sesungguhnya pencetus konsep MKG, dan bagaimana perjalanan sejarah konsep tsb dari awal sampai hari ini.
    Dari sini barangkali kita bisa memperkecil tingkat perbedaan pemahaman.
    Konon….Kanjeng SN Kalijogo pernah menulis sebuah serat yang dinamakan ” Serat Dewa Ruci “, yang isinya persis sama dengan konsep MKG ( yang konon…disampaikan oleh S.S.Jenar ).
    Ada sebuah analisa, bahwa ketika menulis serat Dewa Ruci, umur Kanjeng SN Kalijogo berumur relatif masih muda, dan menjelang kedewasaan umurnya beliau merevisi serat Dewa Ruci dengan ” Suluk Linglung.
    Sebagai catatan : ada 2 buku suluk ling lung :
    1. Asli karangan Kanjeng SN.Kalijogo.
    2. Karangan Imam anom, yang masih keturunan Kanjeng SN Kalojogo.
    Alangkah gembiranya saya , kalau ada para dulur yang sudi membuka tabir sejarah ini.
    Terima kasih Ki Dead Man, dan juga para kerabat yang ikut peduli.

  2. Insun aneksani ing datingsun dhewe
    Satuhune ora ana pangeran amung ingsun
    Lan neksani satuhune Muhammad iku
    utusaningsun
    Iya sejatine kang aran allah iku badaningsun
    Rasul iku rahsaningsun
    Muhammad iku cahyaningsun
    Iya ingsun kang urip tan kena pati
    Ya ingsun kang eling tan kena ing lali
    Ya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir
    ing kahanan jati
    Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing
    sawiji-wiji
    Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa
    wicaksana ora kukurangan ing pangerti, byar :
    Sampurna padhang terawangan
    Ora karasa apa-apa
    Ora ana katon apa-apa
    Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
    Kalawan kodratingsung
    Aku bersaksi di hadapan Dzak-Ku sendiri
    Sesungguhnya tiada Tuhan selain Aku
    Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu
    utusan-Ku
    Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
    Rasul itu rasa-Ku
    Muhammad itu cahaya-Ku
    Akulah yang hidup tidak terkena kematian
    Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
    Akulah yang kekal tanpa kena perubahan di segala
    keadaan
    Akulah yang selalu mengawasi dan tiada sesuatu
    pun yang luput dari pengawasan-Ku
    Akulah yang mahakuasa, yang bijaksana, tiada
    kekurangan dalam pengertian
    Sempurna terang-benderang
    Tidak terasa apa-apa
    Tidak kelihatan apa-apa
    Hanya Aku yang meliputi seluruh alam dengan
    kodrat-Ku
    Ask: Apa benar ki yg saya tulis di atas adalah sasahidan(syahadad) MKG ?
    – Shalat daim itu apa sih ki ? Tata cara/lelakunya bagaimana ?
    Monggo dari ki deadman, ki jenar, atau para sedulus KSIH memberikan pencerahannya
    Thx

  3. sholat dhaim iku laku kang kang dhadi punjer nalarkang edi laku banyu kang murni koyo lakune hibdu angfas mili tankeno owah.samu barang gawe wis takrobanillah afdoludzikru falam anahu.maaf bila banyak salah,tulisan atau makno kawullo titah sakwantah

  4. m marikum@ maaf mas bisa di terjemahkan ke bahasa indonesia gak ?hehehe
    meskipun q orang ngawi, jatim,, bahasa kejawen kayak gitu hanya paham sedikit mas hehe

  5. Mohon izin sebelumnya khususnya tuan rumah ki dead man, saya orang yang slalu berfikir islam itu logika ( ilmiah )/ islamu ilmiyun wa amaliun, saya tertarik dgn babaran diatas, namun klo lah boleh saya berfikir ilmiah contohnya kita sebatang kawat listrik begitu terhubung dengan kawat arus listrik lainnya maka sulit dibedakan mana kawat mana setrum, namun yg pasti kawat tetap kawat strum beda lagi, sama juga Tebu manis tebu apa manis gula? Tentu manis gula tak mungkin manis air tebu. Sebab kalu dipanaskan air pergi. Bgitu pulah kalimat, sesunggunya bukan engkau yang memanah ( wahai muhammad ) tetapi aku ( Allah ). Dan satu lagi kalimat sufi Engkau ada Aku tiada , Engkau tiada aku ada .
    Menurut saya yg bodoh disaat kondisi tertentu itu sebenarnya kita berhampir diharibaan Allah, krn disitu ada yang melihat dan dilihat, ada yg mendengar dan didengar.wallahu’alam.

  6. Permisi ki deadman : saya orang yg slalu berfikir dengan logika, Islamu ilmiyun wa amaliyu ( islam itu ilmiah (bisa di cerna akal) dan amaliya ( ilmiah klu rukun dan syaratnya di amalkan ) dan dipnuhi . Ibarat sebatang tebu , tebu itu manis pertanyaannya manis air atau manis gula ? Tentu manis gula , menyatuka mereka ? Tentu tidak krn klo dipanaskan air terbang gula tinggal. Sesuai kalimat bukan engkau yg memanah ( wahai muhammad ) tetapi aku ( allah ). Mungkin lebih tepat kata terhubung ketimbang manunggal, ibarat kita sebatang kawat begitu kita hubungkan dengan arus listrik maka kitapun menimbulkan listrik, namun kita tetap sebatang kawat.

Tinggalkan Balasan