Beranda ILMU HIKMAH Siapakah Aku?

Siapakah Aku?

0
24

Dalam keadaan sakratul maut, Ki Jokondho-kondho Karosoposopo Onoopo Nangkono(panjang bener namanya) ,tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang. “Tok, tok, tok,” pintu diketuk.
“Siapa di situ?” ada suara dari dalam.
Lalu dia seru saja, “Saya, Tuan.”
“Siapa kamu?”
“S…aya Ki Jokondho-kondho, Tuan.”
“Apakah itu namamu?”
“Benar, Tuan.”
“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Eh, nganu saya anak Lurah, Tuan.” Wajahnya mulai plonga-plong pah-poh.
“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya seorang insinyur, saya juga muridnya mbah XXX Tuan.”
“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”
Sambil masih plonga-plongo pong-pong bolong karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit.
“Ehm saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.”
“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan saya pernah kasih sedekah, lagian saya g pernah nukerin sandal. Setiap lebaran, saya juga puasa dan bayar zakat.”
“Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.”
Akhirnya orang ini pergi melengos keluar, dengan wajah yang masih plonga-plongo ngah-ngoh.
Dia gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa dirinya yang sebenarnya.(T.T)
: : : : : : :
Nggak mudah, tho? Coba pikir, kita nggak paham siapa kita, maka kita punya “Tradisi Besar” mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, profesi, titel, jenis kelamin, warna kulit dan rambut, foto wajah (seperti yang di KTP, our identification!). Kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, kita pun nyaman dengan label itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Think again: apakah ‘aku’ sama dengan ‘tubuhku’?
Perhatikanlah kalimat orang-orang agung, pemuka agama atau guru spiritual itu: “Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.”
Ya,,,barangsiapa mengenal diri (sejati)nya, akan mengenal Tuhannya’. Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu. Konon itu kata-kata Baginda Rasulullah SAW (walaupun masih ada banyak perdebatan mengenai siapa sebenarnya yang mengucapkan kata-kata tersebut, tapi di kalangan pejalan ruhani yang pernah mimpi bertemu dengan Baginda Rasul SAW, konon Beliau membenarkan bahwa kata-kata tersebut adalah kata-katanya).
Tapi seberapa susahnya sebenarnya mengenal diri itu? Sebegitu pentingnya kah hal itu sehingga bisa mengantarkan seseorang pada suatu pengenalan yang sungguh agung, sesuatu yang dicita-citakan oleh siapa saja yang percaya, pengenalan akan Tuhan? Bukankah yang disebut “saya” ini ya saya, ya yang ini? Tidakkah kita semua tahu dan kenal diri kita sendiri?
 
Salam Rahayu
PJJ
by, tiang kabur kanginan

TIDAK ADA KOMENTAR

  1. siapa Q adalah ilmu dasar untuk mengetahui siapa jiwa N raga ini…
    seperti kallam..hayat N sebagainya…kita harus mengetahui arti N juga makna dari i2 semua…mv Q tidak memberi tau secara terperincih..karena percuma bila Q memberi tau kalau anda tidak dapat mengartikan ilmu i2…halusnya tidak dapat menggunakan ilmu i2 dengan kaidah yG ada….wassallam 🙂

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: